PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
Oleh :
SUPARTO, S.Pd. MM. GURU
GEOGRAFI SMA NEGERI 1 WAY LIMA
Dewasa ini dalam proses belajar
mengajar baik dalam bentuk kursus, pelatihan, dan pertemuan ilmiah sering masih
terlihat kaku, bersifat satu arah, dan tampak tegang dan kurang dinamis atau
nyaman. Penggunaan metoda ceramah, curah pendapat, tanya jawab, diskusi,
praktek dan sebagainya, dalam pendalaman materi sering juga tampak monoton dan
kurang dinamis, bahkan peran peserta kadang-kadang tidak diberi kesempatan
untuk mengungkapkan pengalamannya dan hanya diam menerima hasil dari apa yang
disampaikan oleh fasilitator, dan karena keterbatasan pemikiran individu
seseorang kemudian minta pendapat teman-temannya untuk ikut memberikan saran
dan masukan terhadap berbagai masalah yang dihadapi, namun apakah itu bisa
dikatakan sebagai bentuk proses belajar mengajar yang dinamis ? Proses belajar
mengajar bagi orang dewasa merupakan suatu proses berlangsungnya kegiatan
belajar yang dilakukan oleh peserta atau warga belajar dan kegiatan mengajar
yang dilakukan oleh pengajar, pembimbing atau fasilitator. Proses ini juga
merupakan proses menerima dan memberi dalam arti warga belajar menerima materi
yang diperlukan sesuai kebutuhannya dan fasilitator memberikan materi atau
substansi sesuai yang dibutuhkan, disini terjadi timbal balik antara yang
memerlukan dan yang diperlukan, agar proses tranfer pengetahuan, sikap dan
ketrampilan berlangsung secara efektif dan efisien perlu dipersiapkan terhadap
proses adopsi yang berlangsung secara dinamis.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan
yang mempunyai berbagai macam aktivitas berkaitan dengan penyelenggaraan
pendidikan. Ada berbagai macam kegiatan yang mencerminkan pelaksanaan
pendidikan mulai dari yang bersifat pengelolaan dan administratif sampai yang
bersifat teknis pembelajaran. Sebagaimana lembaga pada umumnya, sekolah membagi
kegiatan ini ke dalam bagian-bagian atau unit-unit tertentu yang mana terdapat
peran-peran dari para pemangku jabatan di sekolah sebagai pihak yang
menjalankan kegiatan tersebut sesuai posisinya masing-masing. Mulai dari guru,
petugas TU, kepala sekolah dan jajaran yang ada memiliki andil dalam setiap
kegiatan di sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut secara berkesinambungan membangun
sekolah menjadi organisasi yang dapat mewujudkan visi dan misi yang dimilikinya
dengan baik. Pengambilan keputusan dapat menjadikan sekolah sebagai sebuah
organisasi pendidikan yang terus berdinamika ditengah hambatan dan ancaman yang
muncul baik itu dari internal maupun eksternal sekolah. Sekolah menjadi lebih
fleksibel meskipun harus melewati proses yang begitu rumit dalam mencapai
tujuannya. Adakalanya sekolah dihadapkan pada situasi yang menghantarkan pada
kegagalan namun di saat seperti inilah kegiatan pengambilan keputusan menjadi
solusi untuk tetap mempertahankan eksistensinya sebagai sebuah organisasi.
Sebelum kegiatan pengambilan keputusan itu berlangsung, sekolah mengalami
berbagai macam problematika yang berkaitan dengan pencapaian tujuan. Kesenjangan
yang terjadi antara kenyatan yang dialami sekolah dan harapan yang ingin
direlisasikan menjadi sasaran utama kepala sekolah dalam memainkan peranannya
sebagai decision maker. Masalah ini akan mempengaruhi respon apa yang harus
diberikan untuk melahirkan sebuah solusi melalui pemecahan masalah. Dalam
kegiatan pengambilan keputusan seorang kepala sekolah membutuhkan informasi.
Karena dengan informasi maka akan ditempuh sebuah pemecahan masalah yang
efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan yang ada.
Selama ini pembelajaran kita
sebagian besar masih berada pada zona nyaman. Nyaman karena sudah dilengkapi
buku paket dan fasilitas yang dibantu oleh pemerintah atau instansi terkait.
Pendidik masih berkutat dengan modul atau buku paket yang isinya mungkin
bertolak belakang dengan keiinginan dan potensi murid. Mainset pendidik masih
seputar bagaimana menuntaskan kurikulum. Bukan mengejar kualitas pembelajaran.
Guru
adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara
holistik, aktif, dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk
mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid. Guru merupakan sosok yang menjadi teladan dan agen
transformasi ekosistem Pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.
Proses pengambilan keputusan
membutuhkan ketenangan, keberanian, dan kepercayaan diri untuk menghadapi
konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang kita ambil. Mengapa? Tidak ada
keputusan yang sepenuhnya bisa mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku
kepentingan. Untuk itu, diperlukan kesamaan visi, budaya, dan nilai-nilai yang
dianggap penting dalam sebuah institusi. Dalam mengambil sebuah keputusan,
sering kita mengalami dilema, untuk memilih keputusan apa yang sebaiknya
diambil.
Secara garis besar, dilema dalam
pengambilan keputusan dibagi dua macam, yaitu dilema etika (benar vs benar) dan
bujukan moral (benar vs salah).
Langkah-langkah
yang dapat kita lakukan dalam menerapkannya adalah, sebagai berikut:
1.
Berdiskusi dengan teman sejawat.
2.
Memetakan permasalahan.
3.
Meminta izin kepada kepala sekolah.
4.
Mendampingi teman sejawat.
5.
Evaluasi.
Dalam penerapannya ketika kita menghadapi suatu masalah maka
harus mencoba memecahkanya dengan berdiskusi dengan teman sejawat untuk mencari
solusi yang tepat dan dengan bekolaborasi kita dapat memetakan permasalahan
dengan cara praktik caoaching terhadap teman yang mempunyai masalah agar dapat
mendapatkan akar permasalahan dan memotivasi mencari solusi terbaik yang keluar dari dirinya sendiri dan berkomitmen
untuk keluar dari permaslahan yang ada, kemudian mencoba mendampingi teman sejawat yang
mempunyai permasalahan untuk dapat menyelesaikan dan mengevaluasi apakah sudah
ada kemajuan dalam menyelesaikan masalahnya.
Komentar
Posting Komentar