MEMENUHI KEBUTUHAN BELAJAR MURID MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
MEMENUHI KEBUTUHAN BELAJAR MURID MELALUI
PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
SUPARTO ,S.Pd. MM. GURU GEOGRAFI SMA NEGERI 1 WAY LIMA KABUPATEN PESAWARAN
A. Apa Itu
Pembelajaran Berdiferensiasi?
Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran berdiferensiasi adalah
usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan
belajar individu setiap murid. Pada proses pembelajaran ini kita menekankan
pada kebutuhan individu, mengapa demikian? Ya, karena kita tahu bahwa setiap
anak itu unik, mereka punya ciri khas masing-masing. Setiap anak terlahir
dengan kodrat alam dan zamannya, guru hanya bisa menuntun lakunya bukan
kodratnya. Maka dari itu sebagai guru kita harus memperhatikan kebutuhan
belajar setiap murid yang berbeda.
Namun demikian, bukan berarti kita mengajar dengan berbagai cara
yang berbeda dalam suatu waktu. Melainkan kita memetakan dulu kebutuhan belajar
murid minimal dari 3 aspek, yaitu: kesiapan belajar murid, minat murid, dan
profil belajar murid.
Untuk mengakomodasi
kelemahan-kelemahan dalam program pendidikan untuk anak berbakat yang dilakukan
melalui program pengayaan atau percepatan penuh, para praktisi pendidikan
mengembangkan pendekatan pembelajaran yang disebut pembelajaran berdiferensiasi
(differentiated instruction). Pendekatan ini menghendaki
agar kebutuhan pendidikan siswa berbakat dilayani di dalam kelas reguler.
Program ini menawarkan serangkaian pilihan belajar pada siswa berbakat dengan
tujuan menggali dan mengarahkan pengajaran pada tingkat kesiapan, minat, dan
profil belajar yang berbeda-beda. Dalam pengajaran berdiferensiasi ini, guru
menggunakan: (a) beragam cara agar siswa dapat mengeksplorasi isi kurikulum,
(b) beragam kegiatan atau proses yang masuk akal sehingga siswa dapat mengerti
dan memiliki informasi dan ide, serta (c) beragam pilihan di mana siswa dapat
mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari (Tomlinson, 1995).
Pengajaran
berdiferensiasi tidak berarti memberikan tugas yang sama pada seluruh siswa dan
melakukan penyesuaian untuk siswa berbakat dengan membedakan tingkat kesulitan
pertanyaan, memberikan tugas yang lebih sulit pada mereka, atau membiarkan
siswa berbakat menyelesaikan program regulernya kemudian bebas mengerjakan
permainan sebagai pengayaan. Pengajaran ini juga tidak berarti memberikan lebih
banyak tugas, misalnya soal matematika, pada siswa yang telah menguasai materi
pelajaran tersebut. Sebaliknya, pembelajaran berdiferensiasi ditandai oleh
empat karakteristk umum, yaitu:
1. Pembelajaran berfokus pada konsep dan prinsip pokok. Dalam hal
ini, semua siswa mengeksplorasi konsep-konsep pokok bahan ajar. Dengan cara
seperti ini, semua siswa, termasuk siswa yang agak lambat (struggling learners) bisa memahami dan menggunakan
ide-ide dari konsep yang diajarkan. Pada saat yang sama, siswa berbakat
memperluas pemahaman dan aplikasi konsep pokok tersebut. Pengajaran lebih
menekankan siswa untuk memahami materi pelajaran dan bukannya menghapal
serpihan-serpihan informasi. Pengajaran berbasis konsep dan prinsip mendorong
guru untuk memberikan beragam pilihan
dalam belajar.
2. Evaluasi kesiapan dan perkembangan belajar siswa diakomodasi ke
dalam kurikulum. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak semua siswa memerlukan satu
kegiatan atau bagian tertentu dari proses pembelajaran secara sama. Guru perlu
terus menerus mengevaluasi kesiapan dan minat siswa dengan memberi kan dukungan
bila siswa membutuhkan interaksi dan bimbingan tambahan, serta memperluas
eksplorasi siswa terutama bagi mereka yang sudah siap untuk mendapatkan
pengalaman belajar yang lebih menantang.
3. Ada
pengelompokan siswa secara fleksibel. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, siswa
berbakat sering belajar dengan banyak pola, seperti belajar sendiri-sendiri,
belajar berpasangan, maupun belajar dalam kelompok. Kadang-kadang tugas juga
perlu dirancang berdasarkan tingkat kesiapan siswa, minat, gaya sebelajar siswa
maupun kombinasi antara tingkat kesiapan, minat, dan gaya belajar. Cara belajar
linier dan klasik juga digunakan untuk mengajarkan ide baru.
4. Siswa menjadi penjelajah aktif (active explorer).
Tugas guru adalah membimbing eksplorasi tersebut. Karena beragam kegiatan dapat
terjadi secara simultan di dalam kelas, guru akan berperan sebagai pem-bimbing
dan fasilitator, dan bukannya sebagai dispenser informasi.
B. Bagaimana
Pembelajaran Berdiferensiasi Bisa Diterapkan Di Kelas?
Sebelum menyusun rencana
pembelajaran berdiferensiasi, guru hendaknya memetakan dan mengkategorikan
dahulu murid berdasarkan kesiapan belajar, minat, dan profil belajarnya. Hal
ini bisa dilakukan dengan cara observasi awal atau survey. Berikut contoh
pemetaan kebutuhan belajar murid:
Tabel 1. Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Profil Belajar Murid
|
Profil Belajar Murid |
Visual |
Audio |
Kinestetik |
|
Nama Murid |
Ainun, Aini, manda, ikhwan Agus , Abais, Aliya hanum,Nadia Bagus,
Sumi , Yunita, Wildan , Yoga |
Aziza, Anisa,Aulia, Deswita, Firman
Gita, Nurul Saiful Febri, Riky, Nabil, Desika |
Santika ,Zulia , Roma , Nora, Deswita , Noval, Anggi,
Reisa, Rian, Rifi, , Nayla |
|
Produk |
Siswa diberikan
kebebasan
untuk memilih cara mendemonstrasikan
pemahaman mereka tentang Konsep Dasar Goegrafi
Boleh dalam bentuk gambar berupa poster, berupa rekaman suara dalam
bentuk lagu, ataupun melakukan penampilan berupa video. PPT |
||
|
Proses |
Saat memberikan
penjelasan materi tentang Konsep Dasar geografi guru menggunakan gambar-gambar atau alat bantu visual, PPT, Video Pembelajaran |
Selain itu guru juga menyediakan sumber
belajar berupa
rekaman Audio sehingga dapat didengar siswa secara lisan |
Guru mengajak siswa melakukan study tour mini di halaman sekolah dimana sudah
disediakan beberapa pos yang dapat
dikunjungi siswa yang berkaitan dengan Konsep Dasar Geografi |
|
Dalam contoh di atas, guru mendiferensiasi pembelajaran dengan mempertimbangkan perbedaan gaya belajar. |
|||
Tujuan Pembelajaran: Murid Dapat Membuat Tulisan Berbentuk Prosedur.
Tabel 2. Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Minat
|
Minat |
Olahraga |
Kesenian (Prakarya) |
Sains |
|
Nama murid |
Adit, Diva , Irfan Ali, Iwan Nanda Rina, ulfa |
Salwa, Auli , Hakiki , Susi Rini Lolly Wawan
Robert. |
Asep Anisa Lutfi Seli ,Yanti, rama , lilis, Irfan. |
|
Produk |
Membuat tulisan prosedur tentang bagaimana cara mendribel bola dalam permainan sepak bola. |
Membuat tulisan prosedur tentang bagaimana cara membuat Bunga dari plasitk bekas
(kresek) . |
Membuat tulisan prosedur tentang bagaimana cara membuat rangkaian listrik paralel dan seri. |
|
Dalam contoh di atas, guru mendiferensiasi pembelajaran dengan mempertimbangkan perbedaan minat murid. |
|||
Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Kesiapan Belajar (Readiness)
Tujuan Pembelajaran: murid dapat Menyajikan dan menyelesaikan masalah yang berkaitan
dengan Konsep Dasar Geografi
Tabel 3. Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Kesiapan Belajar
|
Kesiapan belajar (Readiness) |
Murid telah memahami konsep Konsep
Dasar Geografi dan dapat
memberikan contohnya |
Murid telah memahami Konsep Dasar Geografi dan belum dapat memberikan contohnya |
Konsep Dasar Geografi dan dapat memberikan contohnya |
|
Nama murid |
wanda Andi, agum |
Darmawan Ali |
Sakir Anisa putri |
|
Proses |
Murid diminta mengerjakan soal-soal konsep Konsep
Dasar Geografi dalam kehidupan sehari-hari. Murid akan diminta untuk bekerja secara mandiri dan saling memeriksa pekerjaan masing-masing. |
Murid menggunakan buku dan internet Konsep Dasar Geografi. Jika mengalami kesulitan, murid diminta menerapkan strategi “3 before me” (bertanya kepada 3 teman sebelum bertanya langsung pada guru). Guru akan sesekali datang ke kelompok ini untuk memastikan tidak ada miskonsepsi. |
Murid akan mendapatkan pembelajaran melalui internet, Konsep Dasar Geografi. Guru akan memberikan scaffolding dalam proses ini. |
|
Dalam contoh di atas, guru mendiferensiasi pembelajaran dengan mempertimbangkan kesiapan belajar murid. |
|||
Setelah memetakan
kebutuhan murid seperti di atas, kita bisa membuat rencana pembelajaran
berdiferensiasi. Minimal kita melakukan diferensiasi dari salah satunya apakah
dari segi proses, konten, atau produknya.
C. Mengapa Pembelajaran
Berdiferensiasi?
Karena dengan pembelajaran berdiferensiasi, kita
sebagai guru sudah memperlakukan dan melayani murid dengan adil. Tidak ada lagi
murid yang merasa tidak diperhatikan oleh guru. Minat dan bakat murid akan
semakin berkembang dengan pembelajaran berdiferensiasi ini. Pada pembelajaran berdiferensiasi, guru diharapkan
dapat menerapkan strategi yang baik dan tepat dalam mengelola kelas
berdiferensiasi. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan untuk mendukung
pembelajaran berdiferensiasi, antara lain: mengembangkan profil siswa,
memberikan materi dengan format bervariasi dan tingkat kesulitan berbeda,
memberikan pilihan dalam kegiatan belajar dan penialaian, membentuk
kelompok-kelompok kecil dan melakukan pengelompokkan yang fleksibel. Selain
itu, menggunakan kontrak belajar, melakukan pemadatan kurikulum, menggunakan
bantuan teman sejawat atau tutor sebaya, mentor, dan ahli, mempertimbangkan
gaya belajar dan pilihan siswa, serta mengatur kelas yang berpusat pada minat
belajar siswa. Bisa juga menggunakan strategi pembelajaran berkelompok dan
pembelajaran berbasis masalah, dan terakhir merancang tugas-tugas berjenjang. Pembelajaran
berdiferensiasi dapat lebih efektif bagi siswa berkemampuan tinggi dan
mempunyai kesulitan atau tak berkemampuan. Ketika siswa diberikan pilihan
berdasarkan cara mereka belajar, maka mereka akan lebih menunjukkan minat dalam
belajar, bertanggung jawab, serta disiplin.
Selanjutnya,
pembelajaran berdiferensiasi ini akan mampu membantu siswa mencapai hasil
belajar optimal, karena produk yang akan mereka hasilkan sesuai minat mereka.
Seperti siswa yang suka berbicara menghasilkan produk sebuah cerita, siswa suka
menggambar menghasilkan produk sebuah gambar sedangkan siswa pendiam bisa
menghasilkan produk berupa tulisan. Dengan begitu semua kebutuhan mereka
terakomodir sesuai minat atau profil belajar yang mereka miliki.
D. Kesimpulan
Pembelajaran
berdiferensiasi membutuhkan waktu dan persiapan ekstra. Guru masih harus
berjuang mencari waktu di sela-sela jadwalnya. Selanjutnya, guru juga harus
cermat dan tanggap dengan siswa di kelasnya. Namun, untuk dapat mengatasi
tantangan tersebut, terlebih dahulu diperlukan perubahan paradigma pada diri
guru dalam memandang siswa. Mulai dari anggapan siswa itu seragam sampai
anggapan siswa itu beragam. Sehingga tergerak di benak guru untuk mengajar
menggunakan pembelajaran berdiferensiasi agar materi yang disampaikan lebih
mengenal pada siswa.
Menurut Ki Hajar Dewantara, guru diibaratkan seorang petani dan
murid adalah benihnya. Seorang petani tugasnya adalah merawat dan menjaga
benih-benih itu, tentu saja benih yang tumbuh itu berbeda-beda dalam
perkembangannya dan juga berbeda jenisnya. Misalkan untuk merawat benih jagung
tentu saja akan berbeda dengan merawat benih padi. Seorang petani harus
memberikan perawatannya sesuai dengan kebutuhan benih-benih yang berbeda tadi
sampai semuanya berbuah.
Begitu juga kita sebagai guru harus jeli dalam melihat keberagaman
kebutuhan siswa, ada yang lambat, sedang, dan cepat. Ada yang suka agama,
sains, seni, olahraga, dan sebagainya. Ada yang suka belajar dengan cepat
melalui penglihatan, pendengaran, atau kinestetik. Semua harus kita akomodir
dalam proses pembelajaran.
Kita sadari betul bahwa untuk melakukan sebuah perubahan itu
dibutuhkan tekad dan upaya yang keras, konsisten, dan berkesinambungan serta
kolaborasi dengan semua pihak.
Komentar
Posting Komentar