PGP 2 Kabupaten Pesawaran -Suparto -Aksi Nyata Paket Modul 3.
3.3.A.10. AKSI
NYATA - PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURIDPENUGASAN
OLEH
SUPARTO, S.Pd. MM CGP ANGKATAN 2
SMA NEGERI 1 WAY LIMA
MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA DALAM MEMANFAATKAN PERANGKAT DIGITAL DAN
JARINGAN DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
1. PERISTIWA
(FACT)
Latar
Belakang Situasi yang dialami Guru Penggerak
Selama pandemi
Covid-19, kegiatan digital telah meluas dan semakin banyak karena banyak orang
harus beralih ke alternatif daring. Misalnya, konsumen digital e-commerce baru
di Indonesia meningkat sebanyak 37% selama pandemi Covid-19 pada 2020 (Google
et al., 2020; Kementerian Perdagangan, 2020). Selain itu, dikarenakan adanya
penutupan sekolah dalam jangka waktu yang lama, kegiatan pendidikan juga telah
beralih ke bentuk daring, terutama di daerah-daerah perkotaan. Akibatnya,
anak-anak lebih terekspos ke berbagai konten dan produk digital yang kemudian
menjadikan mereka juga menjadi segmen penting dalam ranah konsumen daring.
Akan tetapi,
pertumbuhan penggunaan internet yang besar di Indonesia ini tidak dibarengi
dengan peningkatan kemampuan literasi digital. Definisi literasi digital di
sini tidak hanya menyangkut kemampuan menggunakan teknologi, seperti
keterampilan untuk menggunakan perangkat lunak, dan internet dasar. Akan
tetapi, termasuk keterampilan literasi digital seputar kemampuan untuk
memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang didapat dari sumber digital
dengan penuh tanggung jawab yang menjadi fokus utama dari ringkasan kebijakan
ini. Mengingat perkembangan literasi digital di Indonesia yang masih prematur,
ringkasan kebijakan ini tidak akan membahas literasi digital tingkat atas yang
membutuhkan pemahaman keamanan siber, kewarganegaraan digital, kerahasiaaan
data, dan lain sebagainya.
Perkembangan
teknologi pembelajaran digital yang sangat pesat dan merambah ke seluruh
penjuru dunia telah dimanfaatkan oleh berbagai negara, institusi, dan ahli untuk
berbagai kepentingan termasuk di dalamnya untuk pendidikan dan pembelajaran.
Upaya yang dilakukan adalah mengembangkan perangkat lunak (program aplikasi)
yang dapat menunjang peningkatan mutu pendidikan atau pembelajaran. Perangkat
lunak yang telah dihasilkan akan memungkinkan para pengembang pembelajaran
(instructional developers) bekerjasama dengan ahli materi pembelajaran (content
specialists) mengemas materi pembelajaran elektronik (pembelajaran digital
material). Materi pembelajaran elektronik dikemas dan dimasukkan ke dalam
jaringan sehingga dapat diakses melalui pembelajaran digital, kemudian
dilakukan disosialisasikan ketersediaan program pembelajaran tersebut agar
dapat diketahui oleh masyarakat luas khususnya para pembelajar. Para pengajar juga
perlu memiliki kemampuan mengelola dengan baik penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran digital melalui internet.
Pembelajaran abad
21 adalah pembelajaran yang dirancang untuk generasi abad 21 agar
mampu mengikuti arus perkembangan teknologi terbaru. Terutama pada ranah
komunikasi yang telah masuk ke sendi kehidupan, maka dari itu siswa diharuskan
untuk bisa menguasai empat keterampilan belajar (4C), yakni: creativity and innovation, critical thinking and problem solving, communication dan collaboration. Pembelajaran abad 21 bisa ditandai dengan
perubahan paradigma teaching (root learning) menjadi learning (deep
learning). Bila
ditarik dari manusianya pembelajaran abad 21 bertujuan agar manusia bisa
relevan dengan zamannya, terutama manusia Indonesia maka terbentuklah inisiasi
dari pembelajaran abad 21. Inilah salah satu instrumen untuk
‘membeli’ masa depan. Karena pengaruhnya yang signifikan itulah siswa diharap
mampu beradaptasi dengan zaman sehingga nantinya mereka bisa berkompetisi
dengan baik di masa yang akan datang.
Peran
guru pada pembelajaran abad 21 adalah sebagai:
·
Resources
linkers
·
Pembangun
karakter siswa
·
Menanamkan entrepreneurial
mindset pada siswa
·
Mengajarkan
pemikiran kritis
·
Menciptakan
tantangan kepada siswa
·
Membangun
komunitas belajar
Sedangkan
untuk karakter guru yang harus ada, agar siswa bisa menjadi penerus
bangsa yang maksimal terutama pada abad 21 ini. Guru harus memiliki karakter
sebagai berikut, di antaranya adalah:
Life-long
learner, Karakter
ini adalah guru sebagai pembelajaran tekun sepanjang hayat. Guru harus bisa
mengembangkan pemahaman dan pengetahuannya secara terus menerus mulai dari
membaca, melatih keterampilan, diskusi dengan guru lain dari para pakar yang
terpercaya.
Kunci
dari life-long learner adalah rasa haus akan ilmu pengetahuan. Guru harus
selalu terbuka dengan wawasan baru, sehingga mereka bisa relevan dengan siswa
dan zaman.
Menerapkan
pendekatan diferensiasi,
Karakter ini mengimplementasikan pendekatan yang sesuai dengan cara belajar
siswa. Pada sesi ini pengklasifikasian siswa dalam kelas seperti keahlian dan
minat akan digolongkan.Dengan adanya diferensiasi ini guru akan lebih mudah
mengenali kemampuan siswa secara optimal.
Kreatif
dan inovatif, Guru
dituntut untuk bisa memberikan pembelajaran yang bagus dan sumbernya juga tidak
boleh monoton. Variasi pembelajaran akan membuat kelas menjadi lebih dinamis
dan tidak bosan. Karena guru menjadi panutan, bila guru kreatif dan inovatif
maka siswa juga akan menirunya.
Reflektif, Dengan adanya sikap/alat reflektif ini,
guru dalam mengembangkan pembelajaran akan semakin efektif. Karena dengan
merefleksikan diri pembelajaran akan semakin meningkat. Reflektif ini digunakan
untuk mengetahui apa yang cocok dan tidak cocok untuk kebutuhan siswa sehingga
pembelajaran lebih maksimal.
Kolaboratif, Salah satu karakter yang bisa membuat
pembelajaran ini istimewa adalah keterlibatan guru dan murid untuk bekerja
sama. Pada praktek kerjasama ini guru akan memberikan kehangatan persahabatan
dengan melakukan komunikasi seperti halnya orang tua ke anak dan teman ke
teman.
Mengoptimalkan
teknologi, Ini adalah karakter
yang utama dari pembelajaran 21 ini, dimana teknologi berperan sangat
signifikan. Disini guru juga harus bisa mengoperasikan teknologi terkini dengan
maksimal terutama teknologi internet yang mana nantinya bisa digunakan untuk
memaksimalkan pembelajaran. Salah satu pembelajaran yang bisa dioptimalkan
dengan teknologi adalah blending learning, dimana pembelajaran digabung menjadi
satu yakni online dan offline.
Menerapkan student
centered, Pada karakter ini pembelajaran akan
berpusat pada siswa sehingga guru disini akan bertugas menjadi fasilitator.
Siswa akan melakukan pembelajaran aktif sehingga daya inisiatif dan
kreativitasnya akan tumbuh. Dengan model ini komunikasi akan berjalan dua arah,
sehingga karakter kolaboratif juga akan muncul (https://www.tripven.com/pembelajaran-abad-21)
Dokumentasi Literasi Digital ( Siswa belajar di kelas dengan memanfaatkan HP dalam mecari materi Pembelajaran
Siswa Menggunakan Google Class Room Dalam Belajar Berliterasi Digital
II Deskripsi Aksi Nyata
Aksi nyata yang dilaksanakan CGP
dengan tema “Meningkatkan Pemahaman Siswa Dalam Memanfaatkan Perangkat Digital Dan
Jaringan Dalam Pembelajaran Di Sekolah ” berwujudnya program literasi
adalah aksi membangun kesadaran minat baca murid, pentingnya membudayakan minat
baca akan menambah wawasan serta merubah pola pikir murid untuk mencintai
membaca.
Literasi adalah kemampuan seseorang
dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan
menulis. Dalam perkembangannya, definisi literasi selalu berevolusi sesuai
dengan tantangan zaman.
Berikut adalah Langkah-langkah aksi
nyata :
1. Sebelum melaksanakan kegiatan guru harus
mengkomunikasikan dengan kepala sekolah sebagai penanggung jawab
2. Membangun kerjasama dengan semua guru
3. Kegiatan
ini dimulai oleh seluruh siswa kelas X, XI, XII yang dilaksanakan setiap hari dalam
kegiatan Belajar Mengajar.
4. Murid
Menggunakan HP nya untuk mencari materi pembelajaran yang di sampaikan guru dan
mengerjakan tugas.
5. Murid
menggunakan HP di kelas saat pembelajaran harus dalam pantauan guru.
6. Mendeteksi
apakah ada hambatan dalam pelaksanaan program.
7. Evaluasi
Program apakah berjalan dengan baik atau tidak.
III. Hasil dari Aksi Nyata
Hasil
dari aksi nyata yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Suasana
belajar murid lebih menyenangkan,karena mereka diperbolehkkan menggunakan HP nya untuk melihar Video
Pembelajarn di You Tube , Brosing dan
lain-lian
2. Suasana
belajar murid di sekolah lebih bahagia karena mereka melakukannya tanpa adanya
paksaan dan tekanan dari guru.
3. Terbangunya
semangat untuk meningkatakan literasi membaca dan bercerita
4. Siswa
mempunyai banyak pengetahuan dalam menggunakan HP saat pembelajaran yang dalam
pengawasan Guru
5. Siswa
mempunyai keterampilan dalam literasi Digital.
2. PERASAAN
(FEELINGS)
Perasaan ketika dan setelah menjalankan
Aksi Nyata.
Perasaan ketika melakukan Aksi nyata: Saya merasa kurang puas dan senang dengan keadaan murid yang tidak lagi bosan dalam belajar dan memudahkan guru dalam pembelajaran di sekolah maupun di rumah ,memiliki perkembangan dalam proses belajar di kelas khususnya minat baca murid. Disatu sisi, saya tidak bisa memaksa murid untuk membaca dengan mengikuti keinginan saya sebagai guru. Namun disisi lain masa depan anak sangat penting, sehingga berbagai kebijakan alternatif bisa diperlukan sesuai dengan kesepakatan dalam rapat Dewan guru (Pleno) dengan pertimbangan kemanusiaan. Setelah melakukan Aksi Nyata saya merasa lebih tenang karena apa yang saya terapkan di kelas bisa diterima oleh murid dan melaksakannya tanpa adanya paksaan. Itu semua terlihat ketika murid pada saat jam istirahat pun mereka tertarik untuk membaca , Walaupun perubahannya baru terlihat sedikit tetapi lama kelamaan akan menjadi pembiasaan. Paradigma yang digunakan adalah paradigma jangka pendek melawan jangka panjang. Dimana hasil dari saat ini akan terlihat di masa yang akan datan
2. PEMBELAJARAN YANG DIPEROLEH
Setelah melalui proses sosialisasi, komunikasi,
membangun kesepakatan bersama, hingga bersama-sama melaksanakan aksi nyata
bersama dengan murid di kelas, maka selaku CGP saya menilai aksi nyata tersebut
mampu membawa dampak positif dalam mewujudkan peserta didik menjadi manusia
berkarakter dan memiliki wawasan yang luas dan pola pikir yang beragam.
Perilaku yang membudayakan literasi semakin meningkat oleh pembiasaan yang
dilaksakanakan oleh murid itu sendiri. Setelah melalui proses demi proses
hingga terlaksananya aksi nyata tersebut, maka dari aksi tersebut menunjukkan
antusias dari murid dalam kelas. Aksi Nyata ini akan saya imbaskan pada kelas
lain supaya ada keberagaman dalam meningkatkan minat baca murid.
Hambatan yang saya alami selama proses pelaksanaan
aksi nyata ini adalah masih ada 4 orang
murid yang belum lancar membaca sehingga mereka kesulitan untuk mengetahui isi
pesan dari bacaan yang tertera dalam bungkusan makanan tersebut. Saya
memberikan solusinya kepada mereka tersebut untuk menceritakan nama,warna daun , warna bunga dari tumbuhan tersebut.
3. Rencana
Perbaikan di Masa depan
Pendidikan karakter masyarakat sangat penting untuk dimulai sedini mungkin,
yakni sejak manusia berusia 0 – 6 tahun (golden age) (Jan H. Kietzmann, 2011).
Oleh sebab itu, kegiatan pelatihan pembelajaran literasi digital bagi para ibu,
siswa dan guru perlu dilakukan guna meningkatkan kepedulian terhadap pendidikan
karakter demi mewujudkan generasi cerdas di era millenal
Sebagai CGP saya berkomitmen untuk melaksanakan aksi
nyata ini sebagai prilaku positif yang menjadi budaya, saya berkeinginan untuk
menjalankannya secara berkesinambungan dan lebih luas dalam hal berbagi
kebiasaan positif tersebut dengan sesama warga sekolah. CGP berencana berbagi
aksi nyata tersebut ke seluruh kelas agar budaya literasi Digital dapat
dilaksanakan secara bijaksana dalam
pembelajaran. CGP juga akan memotivasi peserta didik untuk terus melaksanakan
literasi apa saja yang bernilai positif membentuk dan menumbuhkan dan membangun
karakter mereka. Semakin terbiasanya peserta didik berperilaku positif semakin
kuat nilai budaya berkarakter melekat dalam diri mereka dan guru akan terus
menuntun dan memberi teladan.
Kerangka
Literasi Digital Indonesia Secara umum yang dimaksud dengan literasi digital
adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), untuk
menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan
konten/informasi, dengan kecakpan kognitif maupun teknikal.







Komentar
Posting Komentar