3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual (Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran )

 

3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual

SUPARTO, S.Pd. MM CGP 2 SMA NEGERI 1 WAY LIMA 

Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran



Dewasa ini dalam proses belajar mengajar baik dalam bentuk kursus, pelatihan, dan pertemuan ilmiah sering masih terlihat kaku, bersifat satu arah, dan tampak tegang dan kurang dinamis atau nyaman. Penggunaan metoda ceramah, curah pendapat, tanya jawab, diskusi, praktek dan sebagainya, dalam pendalaman materi sering juga tampak monoton dan kurang dinamis, bahkan peran peserta kadang-kadang tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengalamannya dan hanya diam menerima hasil dari apa yang disampaikan oleh fasilitator, dan karena keterbatasan pemikiran individu seseorang kemudian minta pendapat teman-temannya untuk ikut memberikan saran dan masukan terhadap berbagai masalah yang dihadapi, namun apakah itu bisa dikatakan sebagai bentuk proses belajar mengajar yang dinamis ? Proses belajar mengajar bagi orang dewasa merupakan suatu proses berlangsungnya kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta atau warga belajar dan kegiatan mengajar yang dilakukan oleh pengajar, pembimbing atau fasilitator. Proses ini juga merupakan proses menerima dan memberi dalam arti warga belajar menerima materi yang diperlukan sesuai kebutuhannya dan fasilitator memberikan materi atau substansi sesuai yang dibutuhkan, disini terjadi timbal balik antara yang memerlukan dan yang diperlukan, agar proses tranfer pengetahuan, sikap dan ketrampilan berlangsung secara efektif dan efisien perlu dipersiapkan terhadap proses adopsi yang berlangsung secara dinamis. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai berbagai macam aktivitas berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan. Ada berbagai macam kegiatan yang mencerminkan pelaksanaan pendidikan mulai dari yang bersifat pengelolaan dan administratif sampai yang bersifat teknis pembelajaran. Sebagaimana lembaga pada umumnya, sekolah membagi kegiatan ini ke dalam bagian-bagian atau unit-unit tertentu yang mana terdapat peran-peran dari para pemangku jabatan di sekolah sebagai pihak yang menjalankan kegiatan tersebut sesuai posisinya masing-masing. Mulai dari guru, petugas TU, kepala sekolah dan jajaran yang ada memiliki andil dalam setiap kegiatan di sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut secara berkesinambungan membangun sekolah menjadi organisasi yang dapat mewujudkan visi dan misi yang dimilikinya dengan baik. Pengambilan keputusan dapat menjadikan sekolah sebagai sebuah organisasi pendidikan yang terus berdinamika ditengah hambatan dan ancaman yang muncul baik itu dari internal maupun eksternal sekolah. Sekolah menjadi lebih fleksibel meskipun harus melewati proses yang begitu rumit dalam mencapai tujuannya. Adakalanya sekolah dihadapkan pada situasi yang menghantarkan pada kegagalan namun di saat seperti inilah kegiatan pengambilan keputusan menjadi solusi untuk tetap mempertahankan eksistensinya sebagai sebuah organisasi. Sebelum kegiatan pengambilan keputusan itu berlangsung, sekolah mengalami berbagai macam problematika yang berkaitan dengan pencapaian tujuan. Kesenjangan yang terjadi antara kenyatan yang dialami sekolah dan harapan yang ingin direlisasikan menjadi sasaran utama kepala sekolah dalam memainkan peranannya sebagai decision maker. Masalah ini akan mempengaruhi respon apa yang harus diberikan untuk melahirkan sebuah solusi melalui pemecahan masalah. Dalam kegiatan pengambilan keputusan seorang kepala sekolah membutuhkan informasi. Karena dengan informasi maka akan ditempuh sebuah pemecahan masalah yang efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan yang ada.

Selama ini pembelajaran kita sebagian besar masih berada pada zona nyaman. Nyaman karena sudah dilengkapi buku paket dan fasilitas yang dibantu oleh pemerintah atau instansi terkait. Pendidik masih berkutat dengan modul atau buku paket yang isinya mungkin bertolak belakang dengan keiinginan dan potensi murid. Mainset pendidik masih seputar bagaimana menuntaskan kurikulum. Bukan mengejar kualitas pembelajaran.

Guru penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif, dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid. Guru penggerak merupakan sosok yang menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem Pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.

Materi yang kami pelajari pada program Calon Guru Penggerak sangat memperkaya wawasan dan keterampilan untuk pengambilan keputusan dalam mengemas pembelajaran di kelas. Mulai modul 1 s.d. 3 saling berhubungan erat dan tidak saling bertentangan.  Kalau ditarik benang merahnya ternyata inilah yang dinamakan merdeka belajar. Merdeka belajar merupakan hal utama yang harus diciptakan agar pembelajaran menjadi bermakna bagi murid.

Sebagai seorang Calon Guru Penggerak, saya mempelajari modul "Mengambil Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran". Saya akan menerapan langkah-langkah pengambilan keputusan beserta langkah-langkah pengambilan keputusan  sebagai umpan balik dari ilmu yang sudah saya pelajari pada  kegiatan ini. Saya berencana untuk membagikan ilmu yang diperoleh kepada teman sejawat di sekolah dengan cara melakukan diskusi-diskusi ringan terlebih dahulu, sharing, dan menggali permasalahan yang dihadapi.

Proses pengambilan keputusan membutuhkan ketenangan, keberanian, dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang kita ambil. Mengapa? Tidak ada keputusan yang sepenuhnya bisa mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan. Untuk itu, diperlukan kesamaan visi, budaya, dan nilai-nilai yang dianggap penting dalam sebuah institusi. Dalam mengambil sebuah keputusan, sering kita mengalami dilema, untuk memilih keputusan apa yang sebaiknya diambil. Secara garis besar, dilema dalam pengambilan keputusan dibagi dua macam, yaitu dilema etika (benar vs benar) dan bujukan moral (benar vs salah).

Berdasarkan diagram tersebut, pengambilan keputusan pada dilema etika dikategorikan menjadi 4, yaitu.

1.    Individu lawan masyarakat (individual vs community)

Paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya.

2.    Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy).

Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya.

3.    Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia.

4.   Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

      Paradigma ini kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.

 

 

Setiap permasalahan tentu ada jalan keluarnya. Untuk mengatasi dilema tersebut, diperlukan prinsip pengambilan keputusan. Prinsip pengambilan keputusan tersebut adalah (1) berpikir berbasis hasil akhir, (2) berpikir berbasis rasa peduli, dan (3) berpikir berbasis peraturan. Untuk mendapatkan keputusan terbaik, perlu dilakukan pengujian. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan, yaitu (1) menggali nilai-nilai yang bertentangan, (2) mengidentifiasi siapa yang terlibat, (3) mengumpulan fakta-fakta yang relevan, (4) pengujian benar atau salah, (5) buat keputusan, (6) identifikasi opsi trilemma, (7) melakukan prinsip resolusi, (8) paradigma pengujian benar lawan benar, dan (9) lihat lagi keputusan dan refleksikan.                      

Langkah-langkah yang dapat kita lakukan dalam menerapkannya adalah, sebagai berikut.

1.   Berdiskusi dengan teman sejawat.

2.   Memetakan permasalahan.

3.   Meminta izin kepada kepala sekolah.

4.   Mendampingi teman sejawat.

5.   Evaluasi.  

 

 

Saya akan melaksanakan program ini secepat mungkin sambil bersosialisasi dengan teman sejawat berdiskusi dan berkolaborasi dengan teman sejawat mebicararakan bagaimana cara pengambilan keputusan yang tepat mengenai permasalahan pembelajaran baik yang menyangkut murid maupun pembelajaran yang dilakukan oleh guru, sambil menunggu jadwal rapat dinas / koordinasi sekolah di situlah saya meminta izin untuk dapat berbagi dengan teman sejawat mengenai cara pengambilan keputusan dengan Langkah-langkah yang baik.

 

Dalam pelaksanaannya, saya akan meminta bimbingan dari Anang Suprapto  selaku pendamping guru penggerak dan Kepala Sekolah sebagai atasan langsungdan wakil kurikulum dan Pak Badawi yang selama ini mendampingi saya dalam Lokakarya Guru Pengerak dan komunitas praktis di SMA Negeri 1 Way Lima . . Selain itu, saya juga akan bertukar pikiran dengan teman-teman sesama CGP yang sama-sama melakukan kegiatan ini. Dengan adanya komunikasi yang baik, maka kami dapat berkolaborasi dan bertukar pikiran. Ketika menemui kendala, saya dapat menemukan solusinya melalui kegiatan diskusi dan saling berbagi pengalaman.

 


Komentar